Deretan Warisan Budaya Kepulauan Bangka Belitung

3 min read

Sebanyak 14 karya budaya asal Kepulauan Bangka Belitung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2021. Beberapa di antaranya adalah adat istiadat masyarakat, ritus, perayaan, keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional hingga seni pertunjukan. Apa saja karya budaya dari Kepulauan Bangka Belitung? Simak rangkuman bagian pertama ini seperti dikutip dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, Kamis (2/12/2021), berikut ini.

1. Penganan Pelite

Penganan pelite atau kue sampan berbahan dasar tepung. Adonan kue ini dibuat dari tepung beras, santan, dan garam yang diaduk-aduk hingga tercampur dan adonan mengental. Kemudian, sediakan wadah takir dari daun pandan dengan bagian bawahnya diberi gula untuk isian. Taburkan slot gates of olympus adonan ke dalam takir lalu dikukus dan diberi gula pasir untuk rasa manisnya.

Kue pelite disebut-sebut salah satu makanan khas Bangka favorit Bung Karno saat diasingkan di sana. Bung Karno bersama para beberapa pejuang kemerdekaan lain diasingkan di Bangka pada 1948–1949.

2. Tari Tigel

Nama tarian ini diambil dari bahasa seberang (sekak) yang artinya penipu, pemabuk, dan segala hal yang bersifat negatif. Keyakinan orang-orang terdahulu bahwa orang yang pernah singgah atau belajar dari sekak pasti memiliki sihir dan kekuatan gaib. Maka, tari ini mengandung unsur mistik dalam prosesnya.

Baca Juga : Mengenal budaya Papua

Penarinya terdiri dari penari perempuan yang tingginya rata atau sama dan berjumlah empat orang. Mereka menggunakan telekung (penutup kepala) dan kain panjang yang diselempangkan pada leher dan ujung kiri dan kanan dipegang pada ujung jari. Penari laki-laki bebas siapa saja dan tidak ada batasan-batasan tertentu mereka disebut sebagai Penumbuk.

3. Kawin Herdek

Kawin massal atau “Kawin Hederek” yang artinya menikah bersama-sama. Dahulu, kawin massal diadakan hampir di semua desa di Bangka Selatan. Seiring modernisasi, kian sedikit yang menjaga kelestarian budaya ini. Salah satu yang tetap melestarikan tradisi ini adalah Desa Serdang. Kawin massal ini telah berlangsung sejak 1943 yang digelar setelah panen lada dan padi.

4. Sedekah Gunung Pelangas atau Taber Gunung

Prosesi adat ini memiliki peran penting bagi masyarakat Jerieng, khususnya pada pengharapan akan kesuburan ladang, hasil madu, serta terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Taber gunung terdiri dari kata taber, yakni aktivitas untuk menolak bala dengan menggunakan air beras, kunyit, dan tumbuhan taber.

Sedangkan, gunung adalah mengacu kepada tempat yang akan disucikan (taber), dalam hal ini penggunaan istilah taber gunung adalah prosesi adat untuk menolak bala dan mengharapkan berkah yang dilaksanakan di atas gunung. Prosesi terbagi menjadi pra-acara, acara inti, dan acara doa selamat.

5. Kue Bludar

Kue ini adalah salah satu dari penganan khas di Kota Muntok Bangka Barat. Pembuatan kue bludar masih dilakukan oleh para pembuat kue di Muntok dengan cara tradisonal secara turun temurun, salah satunya adalah dengan menggunakan batu giser atau gilingan batu yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.

Proses pembuatan membutuhkan tepung beras sebagai bahan dasar dan menggunakan batu giser untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini dikarenakan tekstur tepung beras akan berbeda jika menggunakan mesin gilingan beras.

6. Kue Bolu Kuci

Kue Bolu Kuci biasanya disajikan pada saat acara pernikahan. Kue ini terbilang kue termahal pada zaman dahulu, hanya orang-orang tertentu yang dapat membuat penganan ini karena bahan-bahannya yang terbilang sangat mahal. Dalam pembuatan, bahan yang diperlukan untuk adonan adalah kelapa parut atau santan cair, gula merah yang sudah dihaluskan, kuning telur, garam, vanili, minyak kelapa dan tepung terigu.

7. Mi Rebus Belitung

Pulau Belitung terkenal dengan makanan hasil laut. Mi Belitung identik dengan olahan laut dan terbuat dari kuah udang dan bakwan udang. Kerupuk pendamping terbuat dari bahan laut, seperti kerupuk udang, kerupuk cumi, dan kerupuk ikan.

You May Also Like

More From Author